Masih banyak orangtua yang beranggapan anaknya tidak harus minum susu setiap hari setelah melewati batas usia bawah lima tahun (balita). Apalagi setelah menginjak usia remaja.
Berbagai alasan dikemukakan, seperti takut kegemukan karena kadar lemak dalam susu cukup tinggi atau pertimbangan ekonomis karena harga susu yang dinilai cukup mahal.
Selain itu, keengganan di tingkat usia remaja, dewasa dan orang tua karena rasa mual atau sakit perut setelah mengkonsumi susu lantaran laktosa atau kandungan lemak yang terdapat pada susu.
Padahal, menurut Natalia Emmy, ahli gizi dari RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, susu memiliki keunggulan dibandingkan dengan makanan bergizi lainnya karena bentuknya yang cair. Hal ini menjadikan vitamin dan mineral yang terkandung di dalamnya mudah diserap oleh tubuh.
Jadi, mengkonsumsi susu minimal dua kali dalam satu hari cukup membantu untuk melengkapi kebutuhan nutrisi, mineral, dan kalsium dalam tubuh, terutama bagi anak-anak dan remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Demikian juga mereka yang usianya sudah 45 tahun ke atas, ataupun ibu hamil, sangat perlu minum susu dalam jumlah cukup untuk memenuhi kebutuhan kalsium yang berguna bagi pencegahan osteoporosis atau pengroposan tulang.
Namun, minum susu belum menjadi kebutuhan di sebagian kalangan masyarakat di Indonesia sehingga tingkat konsumsinya masih rendah, hanya 7,7 liter per kapita per tahun.
Angka ini jauh di bawah Singapura yang mencapai rata-rata 20,8 liter per kapita per tahun, disusul Malaysia dan Thailand lebih dari 25 liter per kapita per tahun, India 44,9 liter per kapita per tahun dan AS minimal 100 liter per kapita per tahun.
Dalam beberapa kasus, tingkat konsumsi susu menjadi salah satu parameter untuk melihat tingkat kesehatan dan kesejahteraan dan kualitas SDM di suatu negara.
Untuk itu kalangan dokter dan ahli gizi yang didukung sejumlah industri susu dan hasil produk susu berusaha terus mensosialisasikan manfaat minum susu. Minum susu yang ideal setiap hari minimal dua gelas atau 15 liter susu per bulan.
"Kami berharap minum susu dapat menjadi bagian yang penting dalam pola makan sehari-hari," kata Natalia di sela-sela acara Festival Susu yang diselenggarakan oleh PT Tetra Pak Indonesia baru-baru ini.
Kebiasaan minum susu berarti sudah memenuhi sebagian dari kebutuhan asupan kasium dalam tubuh. Kebutuhan kalsium untuk bayi dan anak-anak usia 1-9 tahun sebanyak 400-700 miligram per hari; remaja usia 10-18 tahun sebanyak 1.300 miligram per hari, serta usia di atas 45 tahun dan perempuan yang sudah menopause mencapai 1.300 miligram per hari.
Susu merupakan salah satu sumber kalsium yang paling sempurna dapat diserap oleh tubuh, sehingga besar manfaatnya untuk memasok kebutuhan kalsium para remaja yang sedang dalam usia pertumbuhan dan orangtua untuk mencegah osteoporosis.
Dengan mengkonsumsi minimal dua gelas susu per hari, berarti kebutuhan asupan kalsium sudah terpasok sekitar 600-700 miligram, sehingga kekurangannya diperoleh dari makan bergizi lainnya.
Ketua Umum Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) Alwiesma I.A. Rachman mengatakan meminum susu sebagai bagian dari pola makan sehari-hari itu sangat efektif menjadi upaya untuk mencegah osteoporosis sejak dini.
Pencegahan osteoporosis sejak usia dini itu dapat dilakukan ketika janin masih dalam rahim, balita, dan sewaktu kanak-kanan dan remaja, karena 91% dari massa tulang terbentuk pada usia 17 tahun, "sedangkan sisanya 9% akan terbentuk pada usia 20-an dan setelah berumur 30-an tinggal mempertahankan massa tulang yang telah terbentuk itu," katanya.
Dia mengatakan pada awal orang berusia 20-an, kepadatan tulang mencapai puncaknya dan setelah berumur 35 tahun sampai kira-kira umur 50-an, terutama pada perempuan (saat hamil dan menyusui) massa tulang itu tergerogoti.
Bagi perempuan setelah berumur 35 tahun, estrogen mulai berkurang yang menyebabkan hilangnya jaringan tulang sebanyak 2-3% per tahun hingga menopause pada usia 49-51 tahun, dan kondisi itu akan terus berlangsung sekitar 1-2% sampai 5-10 tahun pascamenopause.
Menurut Alwiesma, salah satu upaya mencegah terjadinya orteoporosis adalah dengan memperhatikan gaya hidup sehat dan asupan gizi yang baik berupa makanan yang mengandung banyak mineral dan kalsium.
Jenis makanan sehat tersebut a.l. susu dan hasil produk susu, ikan teri, sarden dan macherel kalengan dengan tulangnya, kacang-kacangan, sayur-sayuran dan buah-buahan,
"Dari semua makanan sehat itu yang cukup praktis dikonsumsi dan kandungan mineral dan kalsiumnya cukup tinggi adalah susu," ujarnya saat memberikan dukungan pada program Festival Susu.
Communication Director PT Tetra Pak Indonesia Mignonne N.B. Maramis menambahkan sebagai bentuk kepedulian terhadap rendahnya tingkat konsumsi susu di Indonesia, perusahaan multinasional itu menyelenggarakan Festival Susu di Surabaya, Bandung, dan Jakarta.
Kegiatan festival itu melibatkan siswa sekolah dasar, para guru dan perkumpulan ibu-ibu di tingkat rukun tetangga (RT) hingga kabupaten, dengan harapan dapat lebih mencapai sasaran program sosialisasi manfaat minum susu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar